Arsip | Agustus, 2011

Profil Striker:Lionel Messi

23 Agu

Rabu malam pekan lalu, Lionel Messi menyajikan salah satu performa individual paling menawan yang pernah terlihat di lapangan. Dua gol fantastis dan sebuah assist terukur mengantar Barcelona menjungkalkan Real Madrid di el clasico. Tapi, tak ada yang membicarakan tentang penyerang mungil Argentina itu usai pertandingan.

Tentu saja lantaran ada topik-topik diskusi yang lebih panas. Tekel brutal Marcelo terhadap Cesc Fabregas, aksi jahil Jose Mourinho pada asisten pelatih Barca, Tito Vilanova, tamparan David Villa terhadap Mesut Ozil, dan serangkaian insiden lain di mana emosi bergejolak tinggi dalam duel epik antara dua tim terbesar Spanyol ini.

Namun, tetap saja kelas Messi sebagai pembeda antara Madrid yang sukses melejitkan level permainan mereka dan tim Barca yang masih terlihat keteteran secara fisik tak dapat dibantah.

Setelah membukukan gol vital pada leg pertama di Santiago Bernabeu, Leo seperti seorang diri menghadirkan kemenangan di leg II. Permainan yang disuguhkannya amat pantas diganjar banjir pujian dan aplaus yang sangat meriah.

Mungkin tak ada lagi yang perlu diungkapkan mengenai keajaiban dan magi seorang Messi, persis seperti komentar Pep Guardiola tentang anak asuhnya itu: “Kami mulai kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan Leo.” Display yang menentukan di laga-laga penting memang telah menjadi hal reguler bagi pemuda eksepsional ini. Performa ciamik dari Messi bukan lagi hal yang diharapkan oleh para pemain serta fans Barcelona, tapi sesuatu yang sudah diperkirakan.

“Tak ada kata-kata yang pas untuk menggambarkan Messi. Anda harus menyaksikannya langsung, ini sesuatu yang tak bisa Anda deskripsikan karena Anda harus melihat untuk mempercayainya.”

– Bos Barcelona, Pep Guardiola

Publik Camp Nou sudah terbiasa dengan kehadiran bintang-bintang spesial seperti Diego Maradona, Johan Cruyff, Ronaldo, Rivaldo, dan Romario. Mereka semua sempat menjadi pemain kesayangan Barcelonistas, tapi tak seorang pun yang sebrilian dan sekonsisten Messi.

Gerbang musim baru saja diketuk, tapi Messi sudah mencetak tiga gol dari dua pertandingan. Padahal ia baru saja kembali dari masa liburan — dan kampanye Copa Argentina yang mengecewakan bersama Argentina — sebelum turun di first leg Supercopa de Espana di Madrid. Musim lalu, Messi menorehkan statistik mengagumkan dengan total 53 gol dari 55 laga dan sumbangan 24 assist.

MOMEN TERBAIK 2010/11
 SEMI-FINAL UCL LEG 1
REAL MADRID 0-2 BARCELONA
Persis seperti yang disuguhkannya di Piala Super pekan lalu, Messi muncul sebagai pembeda antara Barca dan Madrid. Ia menentukan kemenangan dengan sepasang gol brilian di Bernabeu, termasuk gol kedua yang diceploskannya ke gawang Iker Casillas setelah melewati tak kurang dari empat pemain Madrid dengan liukan khasnya.

Ia melewatkan gim perdana Barca di musim 2010/11 yang berakhir dengan kekalahan 3-1 dari Sevilla di pertemuan pertama Piala Super karena masih beristirahat usai melakoni tugas internasional.

Tapi, begitu kembali beraksi di duel kedua di Camp Nou, Si Kutu membungkam klub Andalusia itu dengan menjaringkan hat-trick sekaligus membawa timnya mengawali musim dengan sebuah trofi di tangan.

Selanjutnya, Leo hanya membutuhkan waktu tiga menit untuk menciptakan gol pertamanya di La Liga musim lalu, yang menjadi pembuka skor kemenangan 3-0 di kandang Racing Santander.

Ia juga tak ketinggalan membobol gawang lawan di ajang Copa del Rey dan Liga Champions. Messi mengontribusikan dwigol dan sepasang assist kontra Panathinaikos. Ia sebenarnya nyaris membukukan gol ketiga dalam laga tersebut, tapi tiang gawang dua kali mengandaskan peluangnya.

Hat-trick-nya akhirnya datang dalam kemenangan telak 5-0 atas Real Betis di Copa del Rey. Almeria, yang diluluhlantakkan Barca 8-0 di liga, juga menjadi korban trigol Messi.

Semua catatan itu termasuk dalam rangkaian sembilan laga beruntun di mana Messi selalu mencatatkan namanya di papan skor. Dia gagal memperpanjang jumlah tersebut di laga selanjutnya, tapi mungkin ia tak begitu mempedulikannya karena Tim Catalan sukses menggilas Real Madrid 5-0.

Pada gim di Camp Nou itu, Messi menunjukkan kepada dunia bahwa dia telah menjadi pemain yang sangat komplet. Memang tak ada gol, dan liukan-liukannya pun tak begitu menonjol, tapi dua assist-nya untuk gol David Villa dan performa luar biasa dalam aspek pressure dan passing memaksa Mourinho merasakan kekalahan terparah sepanjang kariernya sepanjang pelatih.

Gol-golnya kembali bertaburan setelah itu, dua gol dikemasnya di markas Osasuna dan saat menjamu Real Sociedad untuk menutup tahun 2010 yang sensasional bagi dirinya secara pribadi, di mana ia juga keluar sebagai pemenang FIFA Ballon d’Or mengungguli teman-teman setimnya, Andres Iniesta dan Xavi Hernandez.

Memasuki tahun baru, Messi bahkan lebih krusial lagi bagi timnya. Saat Barca tengah membutuhkan inspirasi, ia selalu siap memberikannya. Dua golnya, termasuk pembuka skor yang dilesakkan dengan apik, membawa Azulgrana membalikkan defisit 2-1 saat first leg dan mendepak Arsenal di babak 16 besar Liga Champions.

Di sisi lain, hat-trick-nya ke gawang Atletico Madrid juga memastikan Barca membukukan kemenangan ke-16 secara berturut-turut di liga, mematahkan rekor yang sebelumnya dipegang Madrid era Alfredo Di Stefano pada 1960-an. Ia juga menjaringkan gol semata wayang dalam laga tandang di Valencia dan melewati catatan terbaiknya sebanyak 47 gol di musim sebelumnya — menyamai rekor Ronaldo Luis Nazario de Lima — dengan gol kontra Shakhtar Donetsk di perempat-final Liga Champions.

Setelah menelan kekecewaan di final Copa del Rey karena dikalahkan Madrid, Messi langsung menebusnya kala melawat ke Bernabeu di semi-final leg I Liga Champions. Ia memborong gol Barca — termasuk gol kedua yang lahir dengan indah setelah menerobos barikade pertahanan lawan — dalam kemenangan 2-0 atas sang seteru abadi dan membuka jalan ke final — menyusul hasil seri 1-1 pada second leg — untuk bersua Manchester United di Wembley.

“Di kala Ronaldo acapkali terlihat egois, pengambilan keputusan Leo seolah tanpa cela. Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk menembak, kapan harus mengoper, dan bahkan mengerti momen yang pas untuk sekadar membalikkan badan. Ia menggunakan energinya dengan cermat untuk melakukan sprint dan tusukan-tusukan intuitif, dan opsi yang dipilihnya jarang berakhir sia-sia.

Untuk kali kedua dalam tiga tahun terakhir, Barca dan United kembali beradu di laga puncak kompetisi terakbar antarklub Eropa. Messi, yang memastikan keunggulan 2-0 pada 2009 dengan sundulannya, kembali menaklukkan Edwin van der Sar, kali ini dengan sepakan drive kaki kiri dari luar kotak penalti. Gol yang mengubah keadaan menjadi 2-1 bagi Barca — sebelum diperbesar oleh Villa — menjadi penutup yang manis bagi perjalanan menakjubkan Messi musim kemarin.

Total 53 golnya di akhir kampanye setara dengan koleksi Cristiano Ronaldo bagi Real Madrid. Namun, meski kedua pemain sama suburnya dalam urusan merobek jala tim musuh, gol-gol Messi lebih sering menjadi penentu. Total assist yang dibukukannya juga membuktikan fakta bahwa kontribusi Messi lebih tinggi dibanding CR7.

Di kala Ronaldo acapkali terlihat egois, pengambilan keputusan Leo seolah tanpa cela. Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk menembak, kapan harus mengoper, dan bahkan mengerti momen yang pas untuk sekadar membalikkan badan. Ia menggunakan energinya dengan cermat untuk melakukan sprint dan tusukan-tusukan intuitif, dan opsi yang dipilihnya jarang berakhir sia-sia.

Lionel Andres Messi adalah pemain terbaik yang berkiprah bersama tim terbaik di dunia. Ia masih menjadi pesepakbola terhebat di planet ini dan sungguh layak menduduki puncak daftar GOAL.com 50 berkat performanya dalam 12 bulan terakhir. Lionel Messi: Simply The Best.

Iklan

Profil Gelandang Kanan:Luis Suarez

23 Agu

Kendati Luis Suarez merupakan salah satu bomber tersubur di musim 2009/10 dengan 35 gol dari 33 laga Eredivisie, namanya belum benar-benar menarik perhatian hingga pergelaran Piala Dunia 2010. Setelah itu, rasanya hanya segelintir penggemar sepakbola yang tak ngeh dengan keberadaan anggota timnas Uruguay itu usai handball kontroversialnya kala menghadapi Ghana serta tiga gol yang diukirnya di turnamen terakbar sejagat itu.

Ada harga yang harus dibayar Suarez atas kesuksesannya melaju sampai semi-final bersama negaranya di Afrika Selatan. Ia jadi tak memiliki waktu istirahat yang memadai jelang kampanye 2010/11. Tapi, Suarez enggan mengeluh, bahkan melakoni start cemerlang dengan menyumbang gol bagi Ajax kala melawan PAOK di kualifikasi Liga Champions. Namun hanya beberapa hari berselang ia menghiasi headline dengan pemberitaan negatif. Suarez diusir keluar di menit ke-42 ketika Ajax menelan kekalahan dari Twente di ajang Johan Cruyff Schaal.

Dia pemain impian bagi seorang gelandang. Begitu Anda melihatnya menampilkan pergerakan hebat, saat itu pula dia memberikan sebuah opsi untuk Anda.”


Steven Gerrard

Imbasnya, Suarez terkena suspensi di pekan pembuka Eredivise, tapi ia tetap bermain mengesankan di Liga Champions dengan kembali masuk papan skor kontra PAOK juga melesakkan sebiji gol ke gawang Dinamo Kiev yang mengantar Ajax lolos ke fase grup. Eks bintang Groningen itu seakan kembali berlari menuju performa terbaiknya hanya sebulan setelah memasuki musim baru. Suarez mengemas enam gol dari tiga pertandingan antara 21 Agustus dan 11 September.

MOMEN TERBAIK 2010/11
 COPA AMERICA:
URUGUAY 3-0 PARAGUAY
Usai membawa Uruguay ke final Copa America dengan sepasang gol ke gawang Peru di empat besar, Suarez kembali tampil menawan dan membuka keunggulan timnya versus Paraguay di menit ke-12 yang sekaligus memuluskan langkah menuju tangga juara.

Sayang, segalanya memburuk dengan seketika bagi striker flamboyan itu tatkala Ajax bermain imbang dengan tamunya, PSV, pada November. Suarez menggigit bahu Otman Bakkal dalam sebuah percekcokan jelang laga berakhir dan dijatuhi skorsing berupa larangan bermain di tujuh pertandingan domestik oleh Federasi Sepakbola Belanda.

Gim Liga Champions versus AC Milan tiga pekan kemudian ternyata menjadi pertandingan terakhirnya bersama Ajax. Liverpool rela merogoh kocek lumayan dalam guna meminangnya di jendela transfer Januari dan mengajaknya berkiprah di Liga Primer.

Tanpa perlu menunggu lama, Suarez segera menghasilkan impak positif di klub barunya dan mencetak gol di partai debut melawan Stoke City untuk memenangkan hati fans. Highlight terbaiknya dalam balutan seragam Liverpool sejauh ini datang sebulan setelahnya. Kala itu, lelaki 24 tahun ini terlibat dalam proses terjadinya semua gol Liverpool dalam kemenangan 3-1 atas Manchester United.

Selanjutnya, Suarez tak pernah melepas pedal gas dan terus tampil impresif yang berujung pada kembalinya Liverpool ke persaingan zona Eropa. Akan tetapi, gol-golnya melawan Sunderland, Newcastle United, dan Fulham rupanya tak cukup untuk membantu The Reds finis di lima besar lantaran mereka ditekuk Tottenham Hotspur di partai kandang terakhir nan krusial.

Kartu as Liverpool ini akan melanjutkan terornya terhadap bek-bek lawan dengan kecepatan, trik, determinasi, dan penyelesaian mematikan, yang membuatnya memiliki segala atribut yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu bintang Liga Primer paling terang.”

Bagaimanapun, momen terbaik buat Suarez baru muncul setelah berakhirnya Liga Primer 2010/11. Ia mencapai klimaks di Copa America yang digelar di Argentina. Sang tuan rumah bersama Brasil dipandang oleh banyak kalangan sebagai favorit terdepan juara turnamen antarnegara Amerika Selatan itu, tapi Uruguay membuktikan diri sebagai yang terkuat berkat kontribusi vital kartu as Liverpool itu.

Suarez membukukan satu gol di fase grup, lalu menunaikan tugas sebagai salah satu algojo dengan sempurna dalam drama adu penalti kontra Argentina di perempat-final sebelum mengantar Uruguay ke partai puncak lewat sepasang golnya ke gawang Peru di semi-final.

Dianggap sebagai bintang utama yang perlu disorot, performa Suarez di final pun sama sekali tak mengecewakan. Ia membuka keunggulan timnya serta mengobrak-abrik pertahanan Paraguay sepanjang pertandingan, termasuk mengkreasikan gol kedua Diego Forlan di menit-menit akhir yang memastikan kemenangan Uruguay 3-0. Tak mengherankan jika ia lantas terpilih sebagai Pemain Terbaik Turnamen berkat sederet permainan memukaunya.

Liverpool tak keberatan memberikan istirahat lebih bagi Suarez untuk kembali mencapai kebugaran penuh usai Copa America. Dan setelah menjalani break tambahan tersebut, yang memang pantas didapatkannya sebelum kampanye 2011/12, sang bomber akan melanjutkan terornya terhadap bek-bek lawan dengan kecepatan, trik, determinasi, dan penyelesaian mematikan. Tak diragukan lagi bahwa Suarez memiliki segala atribut yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu bintang Liga Primer paling terang pada musim penuh pertamanya di Inggris.

Profil Gelandang Kiri:Cristiano Ronaldo

23 Agu

Kecepatan. Kekuatan. Presisi. Banyak yang menganggap atribut-atribut itu sangat integral untuk pesepakbola di era modern, dan Cristiano Ronaldo memiliki semuanya. Ronaldo seolah dibentuk untuk permainan masa kini, dikonstruksi untuk mencetak gol, dan kesuburannya di depan gawang musim lalu mengesahkan nama Ronaldo sebagai salah satu goleador terdahsyat sepanjang sejarah La Liga.

“Ada dua opsi: Cristiano dan Messi. Bila Anda menganggap Cristiano sebagai nomor satu, maka Messi adalah nomor dua. Bagi saya sendiri semuanya sudah jelas, Cristiano adalah nomor satu.”

– Jose Mourinho

Akan tetapi, kampanye kemarin toh tak bisa dikatakan memuaskan dalam segala aspek buat Ronaldo. Meski performa tim yang dibelanya, Real Madrid, meningkat pesat dibanding edisi sebelumnya, Los Blancos kembali harus mengakui keunggulan Barcelona, yang juga kian mendongkrak standar permainan mereka, di La Liga dan Liga Champions. Kegagalan tersebut menjadi ending antiklimaks untuk musim debut Jose Mourinho, yang juga diwarnai sederet laga el clasico kontra sang seteru abadi yang penuh kontroversi.

MOMEN TERBAIK 2010/11
FINAL COPA DEL REY
REAL MADRID 1-0 BARCELONA
Sering dikritik lantaran jarang menyuguhkan performa bagus melawan Barcelona, Ronaldo membungkam semua keraguan tersebut dengan melesakkan gol sundulan ciamik di masa extra-time yang memastikan raihan trofi perdananya bersama Madrid.

Kendati demikian, Ronaldo sukses menjaga torehan impresif rasio gol per laganya dalam beberapa tahun terakhir. Ia terus mengamuk mengoyak jala lawan sekalipun kans menjuarai liga telah tertutup sebelum jornada pamungkas. Statistik edannya di pekan-pekan terakhir pun membawanya memecahkan rekor topskor dalam semusim La Liga.

Baik itu memakai catatan 41 gol dari Marca yang ‘menghibahkan’ gol Pepe kontra Real Sociedad di bulan September kepada Ronaldo, ataupun statistik media-media lain sebanyak 40 gol, posisi CR7 sebagai pencatat rekor anyar melewati Telmo Zarra dan legenda Madrid, Hugo Sanchez, tak tergoyahkan.

Jumlah tersebut juga lebih dari cukup guna menghadirkan Sepatu Emas Eropa untuk kali kedua bagi Ronaldo sekaligus menjadikannya satu-satunya pemain yang pernah meraih penghargaan tersebut dengan dua klub berbeda — sebelumnya bersama Manchester United.

Ronaldo menggelontorkan 11 gol di empat gim liga terakhir untuk mengangkangi striker Barca, Lionel Messi. Sepanjang musim lalu, ia menjaringkan quat-trick ke gawang Racing Santander dan Sevilla, tiga tim, yakni Getafe, Athletic Bilbao, serta Malaga harus rela menderita trigol dari Ronaldo. Secara keseluruhan, lelaki kelahiran Portugal itu mengukir 53 gol dari 54 laga di semua ajang, angka yang amat sensasional untuk ukuran pemain yang lebih sering diposisikan sebagai sayap kiri ketimbang menjadi ujung tombak utama di dalam kotak penalti.

Ronaldo mungkin saja menganggap gol-golnya itu sia-sia lantaran timnya masih gagal mendongkel Barca dari singgasananya. Kendati begitu, ia tetap mendapatkan momen istimewa yang pantas dikenangnya di final Copa del Rey. Pesepakbola termahal dunia itu melompat tinggi untuk menanduk umpan silang Angel Di Maria. Gol sundulan yang keren di babak perpanjangan waktu itu menjadi gol penentu yang memastikan trofi Piala Raja kembali ke ibu kota Spanyol sekaligus menjegal langkah Barca mengemas treble kedua dalam tiga tahun.

Itu bukan medali yang benar-benar diidamkan Ronaldo, tapi yang jelas ia sudah mempersembahkan kemampuan terbaiknya untuk mendorong Madrid menuju sukses. Dia mengerti benar bahwa demi mengonfirmasikan posisi Los Merengues sebagai penantang utama Barca sekali lagi di musim 2011/12, ia wajib memproduksi kualitas yang sama seperti musim lalu. Misi yang sungguh berat, tapi Ronaldo adalah figur yang kapabel menangani tekanan dan ekspektasi yang dibebankan di pundaknya.

“Secara keseluruhan, Ronaldo mengukir 53 gol dari 54 laga di semua ajang, angka yang amat sensasional untuk ukuran pemain yang lebih sering diposisikan sebagai sayap kiri ketimbang menjadi ujung tombak utama di dalam kotak penalti.”

Target utamanya musim depan tetap sama: terus menciptakan gol-gol yang bakal mengantar Real Madrid merengkuh poin penuh dan menjungkalkan Barcelona. Duel kedua tim di sepasang laga Supercopa de Espana mengindikasikan bahwa perbedaan level di antara dua musuh bebuyutan ini semakin tipis, dan balapan menuju titel akan sangat ketat.

Satu hal yang pasti, saat Madrid kehilangan Ronaldo, mereka adalah tim yang sangat berbeda dengan pengurangan kekuatan yang sangat signifikan. Memang, ia acapkali menggiring bola sendirian dan terkadang terlihat egois, tapi itu justru memperlihatkan ambisinya yang teramat tinggi untuk meraih sukses, dan betapa ia sangat ingin menghadiahkan trofi utama bagi Madridistas, sesuatu yang bisa terwujud musim depan.

Profil Gelandang Tengah:Andres Iniesta

23 Agu

Tahun kemarin bisa dibilang merepresentasikan dunia yang berbeda bagi seorang Andres Iniesta. Setelah cukup lama dikenal ‘hanya’ sebagai pendamping ideal Xavi Hernandez, gol tunggal di final Piala Dunia sontak mengantar pemain Spanyol itu ke tempat yang jauh lebih terhormat di mata dunia internasional ketimbang sebelumnya.

Satu ayunan kaki kanan di babak extra-time di Soccer City tersebut membuat semua orang ramai memperbincangkan tentang ‘El Caballero Palido‘ alias Si Ksatria Pucat, dan para pundit pun sepakat memasukkan lelaki 27 tahun itu dalam jajaran terelite pesepakbola dunia.

Namun, fakta tersebut bukanlah sesuatu yang baru bagi fans Barcelona yang sudah lama mengenal kehebatan Iniesta. Keberhasilan di Afrika Selatan lantas dilanjutkan sang gelandang dengan menyuguhkan performa amat konsisten pada kampanye 2010/11, salah satu musim tersuksesnya sejak menembus tim senior Blaugrana hampir sedekade lalu.

“Dia pesepakbola komplet. Dia bisa menyerang dan bertahan, mengkreasikan juga mencetak gol.”

– Pelatih Spanyol, Vicente del Bosque

Sembilan gol Iniesta dari 50 penampilan di semua ajang menyamai statistik terbaiknya dalam urusan menjebol gawang lawan yang diukir pada 2006/07. Sempat bermasalah dengan cedera di edisi 2009/10, Iniesta terbebas dari problem tersebut musim lalu sehingga nyaris tak pernah absen dan selalu tampil segar. Duetnya bersama sang kompatriot, Xavi, yang kebugarannya juga senantiasa terjaga, sukses mengelevasi permainan Barca, yang sebelumnya sudah amat merepotkan klub-klub rival, ke level yang lebih tinggi lagi.

Satu contoh terbaik telepati di antara kedua pemain muncul laga kontra Valencia pada Oktober. Tertinggal 1-0 saat interval, Barca bangkit di babak kedua. Menyusul umpan satu-dua yang menawan dengan Xavi, Iniesta melesakkan gol penyama kedudukan yang mengawali comeback Barca untuk menang 2-1.

MOMEN TERBAIK 2010/11
 LA LIGA
ESPANYOL 1-5 BARCELONA
Setelah tribut emosionalnya bagi almarhum Daniel Jarque di final Piala Dunia, Iniesta mendapat sambutan hangat dari suporter Espanyol saat kedua tim bertemu di derby Catalan pada Desember.

Musim lalu juga menghadirkan emosi tersendiri bagi Iniesta. Berkat tribut khususnya untuk kapten Espanyol yang meninggal pada 2009 karena serangan jantung, Dani Jarque, dalam selebrasi gol di final Piala Dunia, playmaker mungil itu mendapat sambutan hangat dari fans rival sekota Barcelona itu saat bertamu ke Cornella-El Prat bersama timnya pada Desember.

Publik Espanyol menaruh respek yang begitu tinggi pada sikap Iniesta, yang tak lupa ‘mengabadikan’ karier orang lain di momen puncak kariernya sendiri. Barca menggilas sang tetangga 5-1 di laga tersebut, tapi tempat Iniesta sebagai salah satu pesepakbola yang paling disukai justru kian solid.

Pep Guardiola pernah mendapat pertanyaan apakah Iniesta memang terlahir sebagai pesepakbola, dan beginilah respons sang pelatih: “Tidak, dia sudah menjadi pemain hebat sejak dalam kandungan ibunya.”

Jawaban tersebut seperti sangat beralasan bila melihat caranya menerobos pertahanan, dan menguasai bola dengan kontrol tinggi serta perhitungan tepat. Tak seorang pemain pun yang menyerupainya di era modern dalam aspek atribut all-round.

Kesinambungan dominasi Barcelona lantas semakin ditegaskan dengan pengumuman finalis FIFA Ballon d’Or 2010, yang mencantumkan Xavi dan Iniesta sebagai pesaing Lionel Messi. Meski striker Argentina itu sukses mempertahankan mahkotanya, masuknya nama Iniesta menandakan pengakuan publik dunia terhadap kemampuannya, dan setelah finis sebagai runner-up di kontes tersebut, ia pun memastikan langkah Barca menjuarai La Liga dan Liga Champions.

Iniesta turut berandil membawa The Catalans melewati empat laga el clasico bertensi tinggi kontra Real Madrid dalam rentang 17 hari, catatan yang menjadi fondasi tercapainya titel Liga Spanyol untuk kali ketiga berturut-turut sekaligus mengirim Barca ke Wembley guna menghadapi Manchester United. Kemenangan atas wakil Inggris itu, plus performa Iniesta dan Xavi di lini tengah, menetapkan standar baru yang hingga saat ini hanya menjadi angan-angan bagi tim lain.

“Duetnya bersama sang kompatriot, Xavi, yang kebugarannya juga senantiasa terjaga musim lalu, sukses mengelevasi permainan Barca, yang sebelumnya sudah amat merepotkan klub-klub rival, ke level yang lebih tinggi lagi.”

Duetnya bersama sang kompatriot, Xavi, yang kebugarannya juga senantiasa terjaga, sukses mengelevasi permainan Barca, yang sebelumnya sudah amat merepotkan klub-klub rival, ke level yang lebih tinggi lagi.

Di usia 27 tahun, Iniesta sudah mengoleksi 17 trofi mayor bersama klub serta negaranya, dan dengan upaya Guardiola yang tak kenal lelah memotivasi skuadnya mencapai kesempurnaan, angka tersebut tampaknya bakal kian bertambah.

Tapi, sejauh apa pun perkembangan Barcelona dalam beberapa tahun ke depan, dapat dipastikan bahwa Iniesta akan selalu berperan vital sebagai jantung permainan tim dan membangun legasi yang setara dengan Xavi.

Profil Gelandang Tengah:Xavi Hernandez

23 Agu

Situasi sempat terlihat seperti permulaan dari akhir karier bagi Xavi Hernandez. Usai dipermalukan di markas sendiri oleh tim promosi Hercules pada September tahun lalu, pelatih Barcelona, Pep Guardiola, mengaku bahwa sejak saat itu sang maestro lini tengah mungkin tak akan bisa bermain setiap pekan dan perannya mungkin harus dikurangi secara bertahap.

Xavi sempat diparkir gara-gara dibelenggu cedera tendon Achilles, dan hasil diagnosis awal tak begitu menggembirakan. Di saat kembali pun sang gelandang tampak kurang fit dan berada jauh di bawah performa terbaiknya. Barca pun tak meyakinkan kala berhadapan dengan rival-rival yang seharusnya mudah mereka atasi. Publik Catalan prihatin, dan kengototan klub untuk mendatangkan Cesc Fabregas pun seolah terjustifikasi.

“Sejak pertama kali melihatnya bermain, saya tahu dia akan menjadi otak utama Barcelona. Permainannya jauh di atas performa terbaik yang pernah saya tampilkan.”

– Bos Barcelona, Pep Guardiola

Hampir setahun telah berlalu sejak saat itu. Cesc sudah datang, dan sebelum perekrutannya diresmikan, banyak fans Barca yang mengumandangkan suara kontras ketimbang tahun lalu dan yakin pembeliannya tak diperlukan. Bagian kecil yang mendasari opini tersebut adalah mengorbitnya Thiago Alcantara sebagai kandidat kuat pewaris tempat Xavi dalam jangka panjang. Sebagian besar lagi tentu saja dikarenakan musim sensasional yang dijalani Xavi setelah pulih dari cedera.

Pada akhirnya, kekhawatiran Barcelona akan perpisahan prematur dengan sang master of passing lenyap seketika setelah Xavi mengoleksi 50 penampilan di musim 2010/11, statistik yang juga ia catat di empat kampanye sebelumnya. Dan seperti biasanya, Xavi menjadi instrumen penting dalam keberhasilan Barcelona mencaplok hat-trick titel La Liga dan trofi Liga Champions kedua dalam tiga tahun terakhir.

MOMEN TERBAIK 2010/11
 LA LIGA
BARCELONA 5-0 REAL MADRID
Hanya beberapa minggu setelah publik mulai meragukan kapasitasnya untuk terus bersinar, Xavi menyuguhkan performa berkelas di lini tengah dan dan muncul sebagai pembuka keunggulan untuk mempermalukan seteru abadi Barcelona itu dengan skor amat telak — kekalahan terburuk dalam karier Jose Mourinho.

Musim lalu, Xavi mengakumulasi sepuluh assist dan lima gol, tapi statistik tersebut tampak kurang menggambarkan betapa vitalnya seorang Xavi di Barcelona. Pria 31 tahun ini adalah denyut nadi, poros, dan pendulum bagi klub The Catalans. Dengan kehadirannya, hasil akhir biasanya berpihak kepada Barca.

Bisa dibilang Xavi lebih dari seorang pemain reguler dalam keindahan possession play yang diusung Barca. Dia sang protagonis, otak yang mengendalikan plot kekuatan dan prestise tim. Dia adalah pangeran La Masia, pangeran Camp Nou, pangeran Barcelona. Coret Lionel Messi dan Anda masih akan memiliki roh permainan yang menggapai puncak dunia bersama Spanyol pada 2010. Hapus nama Xavi, maka Anda dijamin kehilangan kepemimpinan, arah, hati, dan jiwa tim.

Figur kelahiran Terrassa ini tidaklah cepat, bukan pencetak gol subur, ataupun pendribel yang dinamis. Tapi, arti penting sang gelandang untuk timnya sungguh tak layak dipertanyakan. Berikan bola kepada Xavi, dan dia akan lebih dari sekadar menjaganya. Lewat visinya yang luas, dia akan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik, entah itu dengan mengopernya kembali kepada Anda atau ke rekan setim yang berdiri dalam posisi yang lebih menguntungkan.

Meski sekarang tampak mustahil, tapi Xavi nyaris meninggalkan Camp Nou di akhir 1990-an lantaran merasa tak cukup bagus untuk menggantikan Guardiola, yang waktu itu menjadi penguasa lini tengah Barcelona. Guardiola adalah sosok gelandang eksepsional dengan segala skill yang dimilikinya, walau kurang mendapat pengakuan di level internasional, tapi Xavi kini telah menjelma menjadi pemain yang lebih baik lagi, dan itu rasanya cukup menggambarkan kedahsyatan akademi Barca, La Masia, dalam menelurkan gelandang andal.

Cara bermain Xavi merupakan pengejawantahan gaya bermain Barcelona. Ia termasuk dalam daftar panjang gelandang sentral pendistribusi bola yang ‘dilahirkan’ Barca, yang juga berisi pelatihnya sekarang, Guardiola, rekan setimnya, yakni Cesc, Andres Iniesta, dan Thiago, serta Ivan de la Pena yang kini sudah pensiun. “Saya mengoper dan saya bergerak, saya membantu Anda, saya mencari Anda, saya berhenti, saya mendongakkan kepala, saya mengamati, dan yang lebih penting, saya membuka celah di lapangan. Dia yang memiliki bola adalah master permainan ini,” demikian pemaparan Xavi dalam sebuah wawancara tahun lalu. Deskripsinya itu merangkum dengan sempurna filosofi permainan yang dianut Barca dan dirinya sendiri.

“Xavi lebih dari seorang pemain reguler dalam keindahan possession play yang diusung Barca. Dia sang protagonis, otak yang mengendalikan plot kekuatan dan prestise tim. Dia adalah pangeran La Masia, pangeran Camp Nou, pangeran Barcelona.”

Kedatangan Cesc tak pelak bakal memberi keleluasaan lebih bagi sang master lini tengah untuk beristirahat dan menghemat energinya untuk laga-laga terpenting Barcelona. Meski begitu, Fabregas, yang berusia lebih muda, bukanlah penggantinya di klub dan timnas, setidaknya belum.

“Saya datang ke sini tidak untuk mempensiunkan Xavi,” kata Fabregas. “Dia masih akan terus bersinar hingga beberapa tahun ke depan. Dia benar-benar mengagumkan.” Memang begitulah kenyataannya. So, dengan kontraknya yang tersisa tiga tahun lagi, plus opsi dua musim tambahan, saat ini jelas bukan awal dari akhir Xavi, seperti yang sempat ditakutkan fans Barca September tahun lalu.

Profil Bek Kanan:Daniel Alves

23 Agu

Kekalahan mengecewakan di tangan tim promosi Numancia pada 31 Agustus 2008 tampaknya menjadi momen yang ingin segera dilupakan fans Blaugrana kala itu, tapi partai tersebut menandai awal kejayaan luar biasa Tim Catalan di era modern.

Pep Guardiola melakukan debut sebagai pelatih Barca malam itu, dan mampu bertahan melewati penampilan amat mengecewakan tim asuhannya untuk mengunci trigelar nan historis, yakni titel La Liga, Liga Champions, dan Copa del Rey, langkah-langkah permulaan menuju pembangunan salah satu tim tersukses sepanjang sejarah.

Dan salah satu anggota kunci dalam tim memiliki kisah yang paralel dengan perjalanan Pep sebagai arsitek The Catalans. Pemain tersebut juga mencatat debut di Numancia dan sejak saat itu menjelma jadi sosok terhebat dunia di posisinya. Pemain itu adalah Dani Alves.

“Dani menyuntikkan dinamika, fisik, dan skill spesial buat kami, tapi di atas itu semua adalah bagaimana ia dapat mengubah pertandingan. Dia memiliki segalanya.”

Sporting director Barcelona, Andoni Zubizarreta

Sebelum hijrah ke Barcelona, Alves adalah bintang Sevilla yang berhasil menyabet Piala UEFA secara back-to-back pada 2006 dan 2007. Tak pernah sangat subur dalam mencetak gol, tapi selalu menceploskan beberapa tiap musimnya, dan pemain Brasil ini merepresentasikan prinsip permainan menyerang yang diusung tim Andalusia itu walaupun ia beroperasi sebagai bek kanan.

Alves mengakumulasikan 19 dan 18 assist di dua musim terakhirnya di belahan selatan Spanyol dan meneruskan catatan serupa di Camp Nou dengan total 20 assist dalam 54 pertandingan musim lalu, rekor terbaik sepanjang kariernya.

MOMEN TERBAIK 2010/11
 LA LIGA
BARCELONA 2-1 GETAFE
Alves melepaskan tendangan setengah voli yang manis dengan sisi luar kaki kanannya, bola kemudian melengkung menuju pojok gawang dan Barca pun mengunci kemenangan penting di bulan Maret.

Dalam selebrasinya, Alves merenggangkan otot-ototnya dan mencium tato di bisepnya di hadapan suporter yang memadati Camp Nou.

Di akhir musim keduanya bersama Barca, Dani menjadi bagian dari tim yang harus melihat harapan mempertahankan trofi Liga Champions memudar dengan kekalahan di semi-final dari Inter, yang akhirnya keluar sebagai kampiun turnamen.

Dia juga harus rela menyaksikan rival di Inter sekaligus kompatriotnya, Maicon, dipilih sebagai Bek Terbaik di Level Klub oleh UEFA dan mendapat tempat di FIFA World XI musim tersebut. Tak hanya itu, performa Maicon pun memaksa Alves duduk di bangku cadangan di timnas Brasil. Bahkan, bintang Inter itu sukses menembus tim All-Star di Piala Dunia 2010.

Meski begitu, setelah setahun berlalu, roda kehidupan pun berputar. Di tengah meredupnya sinar Maicon, penampilan Alves sama sekali tak menunjukkan sinyal penurunan. Sang bek kanan seringkali naik jauh ke lini depan tim asuhan Guardiola, beroperasi sebagai unorthodox winger dan menyokong serangan. Alves membentuk kerja sama istimewa baik itu dengan Lionel Messi atau Pedro di sisi kanan.

Diberkahi dengan kecepatan, tenaga, kekuatan, kemampuan teknis mumpuni, dan tembakan kencang, Alves adalah pemain modern yang komplet.

Ukiran empat gol serta 20 assist dalam 54 gim pun menjadi simbol pengesahan kehebatannya, meski soliditasnya dalam mengawal pertahanan tetap menjadi tanda tanya besar. Alves dengan ceroboh mengakibatkan timnya menderita penalti saat ia melanggar Marcelo — meski nama terakhir ini mengaku melakukan diving — dalam laga kontra Real Madrid pada awal April di Santiago Bernabeu dan menimbulkan kontroversi dengan aktingnya di lapangan di salah satu el clasico lanjutan.

Namun, apabila murni ditilik dari aspek sepakbola, Alves telah mengonfirmasikan statusnya sebagai bek kanan terbaik dunia, menambah dimensi berbeda bagi permainan Barca di bawah arahan Guardiola.

Meski begitu, Alves harus melalui kampanye yang mengecewakan di Copa America, ia gagal menyuguhkan penampilan impresif di dua pertandingan awal dan kehilangan tempatnya. Selecao asuhan Mano Menezes pun terjungkal di perempat-final. Tetapi, turnamen tersebut memang identik sebagai panggung keterpurukan bintang-bintang utama, termasuk rekan setimnya di Barca, Messi.

“Murni ditilik dari aspek sepakbola, Alves telah mengonfirmasikan statusnya sebagai bek kanan terbaik dunia, menambah dimensi berbeda bagi permainan Barca di bawah arahan Guardiola.”

Lantaran merasa kurang dihargai oleh Barca, Alves pernah mempertimbangkan angkat kaki dari Camp Nou pada awal kampanye lalu. Lewat pers, ia mengungkapkan perasaannya dan berkata seharusnya klub lebih mengapresiasi sumbangsihnya. Untunglah, kesepakatan baru pada akhirnya tercapai juga.

Direktur olahraga Andoni Zubizarreta pun mengutarakan rasa senangnya dan berujar, “Dia bermain dengan intensitas yang terkadang tak ada hubungannya dengan taktik, tapi lebih berhubungan erat dengan semangatnya. Alves memiliki segalanya. Kami telah mencari-cari di bursa transfer tapi tak seorang pun yang sepertinya. Dia sosok unik di posisinya.”

Itu penilaian yang jujur: memang tak seorang pun yang menyerupai Alves di posisinya, dan fans Barca akan sangat senang dapat melihatnya menyisir sisi lapangan untuk empat musim ke depan. Numancia tampak seperti insiden yang terjadi berpuluh-puluh tahun lalu.

Profil Bek Kiri:Gareth Bale

23 Agu

Merapat ke Tottenham dari Southampton pada 2007, Gareth Bale melalui 24 laga Liga Primer tanpa mencicipi satu pun kemenangan dengan jersey Spurs. Selalu absen tiap kali kubu White Hart Lane mengemas tripoin selama dua tahun pertamanya di klub, istilah ‘kutukan Bale’ membuat publik menilai pemuda Wales itu membawa sial meski sangat bertalenta.

Seiring bergulirnya waktu, klub yang sekarang dikomandoi oleh Harry Redknapp itu berubah dari tim yang tak bisa menang dengan keberadaan pemain 22 tahun itu dalam skuad menjadi tim yang susah berjaya tanpanya.

“Telah sejak lama dia memiliki potensi untuk bersinar, tapi tahun ini dia berhasil meningkatkan permainannya ke level yang lebih tinggi… Saya senang melihatnya tampil sangat baik.”

– Punggawa Manchester United, Ryan Giggs

Dengan segala potensi nyata Bale di musim-musim sebelumnya, baru pada kampanye 2010/11 youngster kelahiran Cardiff itu mendapatkan atensi sekaligus pengakuan dunia atas kehebatannya. Di bawah gemerlapnya sorotan di ajang Liga Champions, winger kiri itu tak hanya membuktikan kapabilitas menyuguhkan performa ciamik di panggung terakbar kompetisi antarklub Eropa, tapi juga sanggup melakoni peran utama dengan mudah.

Memulai musim dengan baik, melesakkan sepasang gol saat away ke Stoke di matchday 2 Liga Primer, Bale terus berkembang setiap pekan, mendominasi sisi sayap kiri dengan konsistensi tinggi yang sangat berperan mengangkat moral timnya yang sempat menelan kekalahan dari Wigan dan West Ham di fase awal kampanye.

MOMEN TERBAIK 2010/11
 LIGA CHAMPIONS
INTER 4-3 TOTTENHAM
Spurs boleh kalah di San Siro, tapi dengan mengukir hat-trick ke gawang sang jawara bertahan, nama Bale akhirnya menjadi buah bibir di seantero Eropa.

Ironisnya, melesatnya nama Bale ke puncak juga terjadi ketika timnya menerima kekalahan. Tertinggal 3-0 dengan seorang pemain dikartu merah kala menghadapi jawara Eropa, Inter, Spurs seperti harus pasrah menerima cap anak bawang di level benua.

Namun, Bale punya ide lain. Ia berulang kali mengecoh dan meninggalkan Maicon, yang disebut La Gazzetta dello Sport “membatu”, dan mengemas salah satu hat-trick terdahsyat di turnamen tersebut. Wakil Italia itu tetap menang 4-3, tapi seorang bintang telah lahir di San Siro.

The Welshman lantas menunjukkan magi serupa pada pertemuan kedua di White Hart Lane dua pekan berselang, mengirim dua assist yang mengantar Spurs menang 3-1 dan memastikan kelolosan ke babak knock-out.

Serangkaian penampilan cemerlang pun menyusul di Premier League, melawan Newcastle dan Blackburn, pun dengan permainan inspirasionalnya yang berbuah kemenangan perdana di kandang rival mereka sesama penghuni London Utara, Arsenal, dalam 17 tahun terakhir. Catatan istimewa Bale juga membantu langkah pasukan Redknapp mengangkangi Liverpool dalam perebutan tiket Liga Europa.

12 gol serta tiga assist yang diukir Bale musim lalu mungkin bukan angka yang terlalu istimewa. Meski begitu, kontribusinya bagi Tottenham dan permainan olah kulit bundar di edisi 2010/11 tersebut amat layak diapresiasi tinggi.

Lagipula, rasanya menakar gairah dan antusiasme yang muncul dengan menyaksikan penampilan calon superstar dengan angka-angka bukanlah hal yang relevan. Bale mungkin tergolong standar bagi para pencatat statistik, tapi tak demikian bagi fans.

Begitu pun di mata rekan-rekannya sesama pesepakbola profesional, yang pada April silam memilih eks prodigy Southampton itu sebagai PFA Player of the Year. Bale menjadi pemain keempat asal Wales yang meraih penghargaan tersebut setelah Ian Rush, Mark Hughes, dan Ryan Giggs.

“Di bawah gemerlapnya sorotan di Liga Champions, Bale tak hanya membuktikan kapabilitas menyuguhkan performa ciamik di panggung terakbar sepakbola Eropa, tapi juga sanggup melakoni peran utama dengan mudah.”

Sebagai pesepakbola, nama terakhirlah yang paling sering dikomparasikan dengan Bale, dan punggawa Manchester United itu pun tak menutupi kekagumannya terhadap sang youngster. Giggs mengatakan, “Telah sejak lama memiliki potensi untuk bersinar, tapi tahun ini dia berhasil meningkatkan permainannya ke level yang lebih tinggi. Sebagai winger dan sebagai orang Wales yang bangga terhadapnya, saya senang melihatnya tampil sangat baik.”

Kini, Bale telah kembali ke kebugaran penuh dan setelah menandatangani konrak baru yang mengikatnya di White Hart Lane hingga 2015, bek-bek Liga Primer akan merasa jeri karena harus berhadapan dengan sang winger di kampanye 2011/12.