Arsip | April, 2015

Jurgen Klopp Tactics

27 Apr

Untuk pertama kalinya kita akan membahas taktik yang digunakan pelatih.Dan untuk mengawali.Kita akan membahas taktik Klopp.Dimana Musim ini adalah musim terakhirnya bersama Dortmund.Menyedihkan ketika Klopp yang membangun Borussia Dortmund hingga menjadi raksasa Jerman harus ditinggalkan.

Prestasi Klopp Bersama Dortmund terbilang impresif,dengan bujet yang minim.Ia bisa mengalahkan dominasi Bayern Munchen selama 2 musim berturut-turut,2010-2011 dan 2011-2012.Sedangkan,prestasi tertinggi di Eropa adalah menjadi Runner-Up Champions League 2013.Mari kita bahas taktik dari Klopp :

Taktik Klopp cenderung mengeksploitasi lini tengah,memainkan tempo tinggi,bermain menyerang dan Direct Passing.Walaupun,di Screenshot ini Marseille.Bisa kita bayangkan,di posisi Kiper Weidenfeller,Bek Kanan Pisczcek yang bertugas menjadi Wingback yang turut membantu serangan dari sisi kanan dan melepaskan crossing.Bek Tengah yang berada di Role Ball Playing Defender adalah Hummels,mengingat dia memiliki akurasi passing yang bagus dan pertahanan yang kuat.Pendamping Hummels adalah Subotic/Sokratis sebagai bek yang benar-benar bertahan.Bek Kiri Schmelzer yang bertugas sama dengan Pisczcek namun ia berada di sisi kiri.Di Gelandang tengah role Ball Winning Mildfielder adalah Bender/Sahin,ia harus memiliki passing yang bagus,tekel yang kuat,dan body yang kuat tugasnya adalah membantu pertahanan namun sesekali harus melakukan passing yang digunakan untuk menyerang.Di Gelandang tengah role Deep Lying Playmaker adalah Gundogan/Sahin,dimana ia juga ditugaskan untuk bertahan namun tidak terlalu dalam,dia juga harus memiliki passing yang mumpuni untuk mendukung Striker maupun Attacking Mildfielder.Posisi Winger Kanan,juga dari Polandia yaitu Kuba bisa juga disebut Blaszczykowski,Kuba ditugaskan menusuk ke tengah kotak Penalti dan sering melepaskan shoot,namun dia juga tidak lupa untuk melakukan passing ke Striker.Posisi Attacking Mildfielder Centre role Advanced Playmaker,yaitu Mkhitaryan/Kagawa dia bertugas mensupport Striker,Winger Kiri dan Kanan,posisi ini benar-benar harus memiliki passing dan Vision yang bagus.Di Winger Kiri dengan role Inside Forward yaitu Reus yang bertugas sama dengan Kuba,dia juga harus memiliki Pace,Agility,Dribbling,maupun Finishing.Terakhir Striker yang memiliki Role Deep Lying Forward,yaitu Immobile/Aubameyang/Adrian Ramos,sayang memang Sepeninggalan Lewa belum ada striker yang mumpuni untuk mencetak gol,finishing,shooting,dan heading juga harus bagus,namun DLF juga bisa multifungsi dengan hanya mengalihkan perhatian bek tengah.Takting ini juga harus berjalan Fluid jangan sampai rigid/Kaku.

Contoh nyata bagaimana taktik Klopp bekerja ketika menghadapi Arsenal.Saat akan melakukan penyerangan.

Contoh Nyata Taktik Klopp bertahan dari Counter Attack,dan terlihat Wilshere yang langsung dikepung 4 pemain.

Selamat Mencoba di FM 15.

“Arsenal Plays Like A Orchestra,But Dortmund Plays Like Heavy Metal” Jurgen Klopp

Iklan

ANALISIS: Formasi Palsu Atletico Madrid Runtuhkan Santiago Bernabeu

15 Apr

Jelang Perempat Final Champions League leg 1 derby madrid,kita akan mengenang dan menganalisis taktik kala Real Madrid kalah kalah 1-2 di Bernabeu.

Tak main-main karena Los Rojiblancos melakukannya di stadion sang saudara, Santiago Bernabeu. Mereka juga berlaga tanpa didampingi sang pelatih kharismatik, Diego Simeone, di pinggir lapangan akibat skorsing. Namun jangan sangka jika sihir sang entrenador hilang begitu saja.

Pengaruh Simeone di lapangan justru amat kental terasa setelah ia mentransformasikannya pada sang asisten, German Burgos. Ya, Atletico sanggup memenangi laga karena berhasil mengeksploitasi dua kelemahan utama El Real, yakni set-piece dan fullback error.

Bukan rahasia lagi, meski musim lalu sanggup mencapai impian meraih La Decima, kelemahan Madrid dalam menghadapi situasi bola mati begitu tampak. Duo benteng, Sergio Ramos dan Pepe tak pernah benar-benar bisa menempel gerak-gerik lawan ketika situasi tersebut terjadi. Sang kiper utama, Iker Casilllas, juga bersalah karena jarang mengomandoi rekan-rekannya untuk menjaga kerapatan jarak dalam area krusial, ketika momen set-piece tiba.

Sebaliknya, salah satu taktik andalan Atletico adalah memanfaatkan situasi bola mati, utamanya melalui sepak pojok. Contoh mudah saat melawan Madrid bisa kita saksikan pada gol Diego Godin di final Liga Champions, atau yang terbaru saat Raul Garcia menyamakan keadaan 1-1 di leg pertama Piala Super Spanyol 2014.

Awalnya kita tentu dibuat heran dengan starting XI Atletico yang menarapkan formasi 4-4-2, di mana Mario Mandzukic berdampingan dengan Raul Jimenez di lini depan. Mengherankan, karena Simeone – tentunya melalui Burgos – tidak menurunkan Antoine Griezmann dan Arda Turan, alih-laih menempatkan Mandzukic sendirian di depan dalam skema favorit 4-2-3-1 atau 4-5-1.

Alhasil, kreativitas permainan Gabi Fernandez cs begitu minim dengan pola aliran bola berpusat ke tengah tanpa mampu memanfaatkan lebar lapangan. Atletico pun terus tampil di bawah tekanan dalam satu jam jalannya pertandingan.

Tidak segalanya berjalan buruk dengan skema tersebut, karena statistik berbicara bahwa Madrid tak bisa benar-benar menghasilkan peluang berarti di sepanjang laga. Bayangkan, dari 21 tembakan ke arah gawang yang dilesatkan, hanya empat yang tepat sasaran!

Namun bukan itu tujuan sejati formasi “palsu” 4-4-2 ala Atletico, karena sasaran mereka adalah mengeksploitasi fullback error Madrid, yang saat itu diisi oleh Alvaro Arbeloa di sisi kanan, dan Fabio Coentrao di sisi kiri.

Harus diakui, selepas era Roberto Carlos dan transformasi posisi Sergio Ramos, hingga kini Los Blancos tak pernah memiliki fullback mumpuni dengan tingkat konsistensi tinggi. Marcelo mungkin yang terbaik di antara deretan fullback lain, namun pemain Brasil itu adalah sang pembuat onar.

Dalam skema awal, Raul Garcia dan Koke bermain terlalu ke dalam untuk diplot sebagai seorang winger. Bukan tanpa alasan, hal itu dilakukan untuk memancing Arbeloa dan Coentrao agar lebih sering maju ke depan. Dengan Atletico yang bermain bertahan, intensitas kedua pemain tersebut untuk naik terlampau sering.

Imbasnya langsung tertuju pada titik lemah Arbeloa dan Coentrao, yakni stamina! Kala momen itu tiba di satu jam jalannya laga, Burgos langsung bereaksi dengan memasukkan Arda Turan dan Antoine Griezmann. Seketika formasi langsung berubah menjadi 4-2-3-1, dengan kedua pemain mengisi peran winger, sementara Raul Garcia berada di belakang Mandzukic.

Atletico pun keluar dari tekanan dan permainan mereka jadi lebih hidup. Gelombang serangan dilancarkan dan kesemuanya terasa lebih menyengat. Pastinya, Arbeloa dan Coentrao-lah yang jadi sasaran serangan. Beberapa kesalahan kecil pun mereka lakukan, seiring terkurasnya stamina untuk mengejar laju Turan dan Griezmann.

Puncaknya terjadi di menit ke-76. Berawal dari kontrol bola kelas dunia Griezmann yang mengelabui Coentrao. Sisi kiri pertahanan yang kosong dimanfaatkan Juanfran yang maju ke depan untuk mengirim umpan pada Raul Garcia. Secara indah gelandang 28 tahun itu lantas melakukan dummy untuk membiarkan aliran bola tertuju pada Turan yang berdiri kosong, lepas dari kawalan Arbeloa. Tanpa ampun, sang bintang Turki melepaskan tembakan menysusur tanah yang langsung membawa Los Cholconeros unggul 2-1!

Setelah tertinggal pelatih Madrid, Carlo Ancelotti, baru tesadar akan formasi palsu yang diterapkan Atletico. Ia lantas mengganti Arbeloa dengan Rapahel Varane, namun segalanya sudah terlambat. Los Indios akhirnya pulang membawa poin penuh dalam derby Madrid di Santiago Bernabeu.

Ya, meski ditinggal sejumlah bintang macam Diego Costa, Felipe Luis, hingga Thibaut Courtois, percayalah jika Atletico Madrid masih bisa berbicara banyak musim ini. Sosok Diego Simeone jadi tumpuan mereka untuk kembali menghadirkan berbagai kejutan, melalui sihirnya dalam racikan taktik memesona!

Apakah anda ingin mencoba di FM 15 ini? racikan taktik dari Diego Simeone bisa menginsipirasi anda.

Sumber : Goal.com

ISL Ganti Nama Jadi QNB League

3 Apr

ISL Ganti Nama Jadi QNB League

Sehari menjelang pembukaan Indonesia Super League (ISL) 2015, nama kompetisi kasta tertinggi di Indonesia tersebut dipastikan berubah setelah masuknya sponsor baru, QNB (Qatar National Bank) Group.

Dengan demikian, nantinya kompetisi ini akan memakai nama resmi QNB League. Kerja sama ini sendiri bakal berlangsung hingga akhir musim 2017 mendatang.

“Ini adalah langkah bersejarah bagi masa depan sepakbola Indonesia. Dukungan dari QNB Group selama tiga musim ke depan akan membantu liga untuk berkembang dan tumbuh dengan pesat. QNB adalah Banking Brand kelas internasional dengan track record yang sudah terbukti dalam menunjukkan kepedulian mereka yang tinggi terhadap sepakbola dan bagi ISL untuk memiliki mereka sebagai sponsor “Title-Partner” merupakan sebuah kehormatan.” ujar Hadi Widodo, Presiden Direktur BVSports.

“Kami berharap melalui kemitraan ini baik QNB Group maupun “QNB League” akan menghasilkan keberadaan yang semakin kuat dan tahan lama di hati para fans sepakbola Indonesia. Kami tidak sabar untuk memulai musim ini dengan harapan yang sangat besar dan bersama dengan QNB Group kami akan mengangkat liga ke tingkat yang    lebih tinggi.” lanjutnya.

QNB Group sendiri merupakan salah satu pemain raksasa dalam dunia perbankan global. Sebelumnya, QNB telah menjadi sponsor untuk klub raksasa Prancis, PSG serta badan sepakbola Asia, AFC. 

Kita tunggu saja apakah ada perubahan nama di FM 15 atau 16? Semoga saja QNB League di FM 16 nanti berlisensi