#FM16Competition NERAKA DI KOTA TILBURG

16 Nov


Hari yang dinanti telah tiba.Hari dimana hari itu bukan sebuah hari biasa.Hari yang akan menjadi sebuah hari spesial nan bersejarah bagi sebuah klub di negeri Eropa sana.Ya,hari itu,hari Rabu tepat di tanggal 27 Februari 2019 mereka mempunyai sebuah hajatan besar,hajatan menyambut tamu besar dari negara tetangga.Semarak kemeriahan sejatinya telah dimulai sejak akhir tahun lalu.Kala itu para supporter tak henti – hentinya,berkonvoi di sepanjang jalan kota sekaligus menyanyikan chant klub kebanggaan mereka.Tak ayal,kota yang menjadi kota terbesar di Belanda nomor 5 ini seketika menjadi padat merayap diselimuti oleh ribuan manusia.Mereka,ribuan supporter ini tumpah ruah dijalanan,larut dalam kesenangannya,tak peduli mereka menjadi kaum minoritas di kota tersebut.Adalah sebuah ‘kekalahan’ yang membuat kota di North Brabant ini tak seperti biasanya.’Kekalahan’ yang membawa klub kebanggaan para supporternya melaju ke panggung yang lebih besar & megah lagi
Eindhoven,kota seluas 88.84 km2 ini tak lagi berwarna putih – merah.Warna merah yang selalu dominan di sepanjang kota ini berdiri,mulai luntur beberapa tahun ini.Warna merah yang selalu menemani putih perlahan mulai memudar,berganti warna yang lain,warna yang sebelumnya selalu terbelakang,warna yang sesuai dengan klub kebanggaan klub mereka,apa lagi jika bukan putih – biru.Ya warna itulah,warna kebesaran klub pujaan mereka,FC Eindhoven.FC Eindhoven,sebuah klub yang terasa lumayan asing ditelinga masyarakat awam,apalagi jika dikaitkan dengan sang saudaranya,sang pemilik warna putih – merah yang telah sukses di Eropa,yakni PSV Eindhoven.Namun anggapan FC Eindhoven adalah klub asing tampaknya akan mulai menghilang dari pikiran banyak orang.Keberhasilan FC Eindhoven dengan ‘birunya’ mentas di panggung Eropa yang lebih besar,sekaligus membuat kota Eindhoven kembali bergairah & bergelora,akan menjadi tonggak awal mulanya.Dan di tanggal 27 Februari 2019 yang sakral plus bersejarah, Blauw-witten,julukan FC Eindhoven bersiap menantang sang raksasa dari tanah Bavaria


4-5 musim lalu FC Eindhoven bukanlah tim apa – apa.Tim yang hanya tampil di kasta kedua liga Belanda.Tim yang selalu kalah digdaya dibanding sang saudaranya,PSV Eindhoven baik dari nama,prestasi hingga fansnya.Tetapi 4 musim setelahnya,tim ini menjelma menjadi besar,besar di kotanya dan juga Belanda.Diawali ketika musim 2017/2018 & 2018/2019 sukses mendominasi Eredivisie dengan merebut mahkota juara hingga manggung di Eropa meski hanya di ‘level 2’.Sang rival,PSV Eindhoven pun ditenggelamkannya ke dasar laut yang paling dalam.Mereka seakan tak mampu menandingi kehebatan calon idola baru di kota Eindhoven tersebut.Tercatat pertemuan mereka,FC Eindhoven selalu superior kala bersua PSV.Bahkan sekarang disudut kota Eindhoven tengah digarap sebuah bangunan,bangunan yang diprediksi selesai di pertenghan tahun 2019 ini,bangunan yang akan menjadi rumah baru FC Eindhoven.Ya FC Eindhoven Stadium.Stadion berkapasitas 22.800 ini jelas akan menjadi stadion ‘tandingan’ dari sang rival,Philips Stadium

Genderang pertandingan akhirnya ditabuh.Suporter minoritas di Eindhoven pun telah bersedia menyambut acara yang dinanti – nantikan itu.Mereka juga telah mempersiapkan diri 110% untuk mendukung sang kebanggaan.Jarak yang memisahkan tampaknya bukan menjadi persoalan bagi para supporter yang dikenal militan ini.Ya,belum rampungnya ‘istana’ baru FC Eindhoven ‘memaksa’ FC Eindhoven menjadi tim musafir kali ini.Stadion Koning Willem-II dikota Tilburg ini pun didaulat menjadi kandang sementara FC Eindhoven di Eropa sejak awal musim 2018/2019 ini.Akan tetapi, meski harus menempuh tak kurang 40 kilometer plus merogoh kocek yang lebih besar, mereka tetap loyal mendukung klub kesayangannya.Tercatat sore itu puluhan ribu supporter FC Eindhoven berbondong – bondong,baik dengan kereta,kendaraan pribadi ataupun bus,datang ke venue pertandingan yang masih dikawasan provinsi North Brabant tersebut.Ujian lain datang tatkala cuaca di hari sakral ini tidak bersahabat.BMKG setempat menginformasikan jika matahari tidak muncul disebagian besar provinsi di Belanda.Dan benar saja,hari ini provinsi North Brabant diguyur hujan lebat sejak pagi hari.Namun untuk kesekian kalinya,para supporter tak lantas surut semangatnya.Mereka tetap berjalan menuju ke lokasi pertandingan.Hujan lebat nan ekstrem pun mereka terobos dan terjang.Dinginnya suhu yang mencapai 8 derajat celcius juga mereka hiraukan dan tak dirasakan.Hanya satu tujuan mereka : mendukung sang kebanggaan berlaga!!

Pukul 17.00 waktu setempat atau kurang lebih 2 jam sebelum kick off pertandingan,suasana stadion Koning Willem-II telah ramai dipenuhi lautan biru – putih ala supporter tuan rumah.Ekstremnya cuaca bukan menjadi kendala bagi mereka yang datang sejak beberapa jam lalu.Bahkan turunnya hujan pun sama sekali tak memadamkan spirit dukungannya seperti warna jersey yang mereka kenakan ini,tak pudar kena percikan air hujan.Sementara di sisi stadion lain,warna merah strip biru juga tampak akan menghiasi di tribun stadion nanti.Siapa lagi kalau bukan sang supporter tamu yang rela hadir,menyeberangi antar negara demi mensupport para pahlawan – pahlawan mereka yang akan bertanding.Kondisi yang tidak kalah riuhnya juga datang di dalam stadion.Giant flag yang menjadi ciri khas supporter FC Eindhoven juga telah terpasang rapi disudut – sudut tribun stadion.Belum lagi, beberapa supporter yang turut serta meramaikan pertandingan,dengan atribut kebesaran FC Eindhoven.Dan ditambah dengan chant – chant yang mereka nyanyikan tanpa henti,semakin menambah gegap gempita atmosfer menjelang duel pertempuran FC Eindhoven kontra FC Bayern Munich di arena 16 besar UEFA Champions League


Kemeriahan supporter FC Eindhoven terlihat jelas di berbagai sudut stadion Koning Willem-II
Sementara itu di lain sisi,di sebuah ruangan dalam stadion,ruangan yang beberapa saat lalu nampak lengang,seketika mendadak ramai.Ya,kedatangan pemain FC Eindhoven membuat suasana ruangan tersebut menjadi ‘gaduh’.Beberapa orang terlihat hilir mudik,keluar masuk ruangan yang bernama locker room itu.Di dalam locker room sendiri,suasana tampak sangat khidmat.Semua pemain terlihat serius dan seksama mendengarkan briefing dan instruksi saya serta official tim.Mereka seakan tahu jika instruksi ini amatlah penting di pertandingan nanti.


Dan briefing pun dimulai.Saya pun lantas menjabarkan formasi yang digunakan,serta instruksi dan strategi yang harus dijalankan para pemain di lapangan nanti agar dapat meredam lawan sekaligus mencuri poin penuh.Ya formasi.Salah satu hal dasar dari sebuah taktik yang dapat menentukan hasil akhir pertandingan.Ibarat sebuah rumah,formasi inilah yang menjadi pondasi awal untuk menciptakan sebuah strategi mematikan.Maka dari itulah,sejak jauh sebelum hari H saya memantapkan taktik 4-1-4-1 yang sedikit saya modifikasi menjadi 4-1-3-1-1.Saya berharap dengan formasi semacam itu,dapat mengimbangi lini tengah Bayern yang tentunya akan turun dengan full team.Di komposisi pemain,tak banyak yang saya sentuh.Skuad regular tetap akan saya turunkan di partai bergengsi ini.Di lini belakang duet Eugene Tkachuk – Kyle Bartley tetap akan menjadi pilihan utama.Dengan ditopang Warner Hahn di garis terakhir,saya berharap tidak banyak gol yang akan bersarang digawang kami.Di lini vital yakni lini tengah,sang anchor man Srdjan Mijailovic akan bahu membahu sekaligus ‘mengawal’ el-capitano Branco van den Boomen.Posisi sayap yang menjadi tumpuan FC Eindhoven dalam berburu gol,kali ini diisi oleh Bilal Ould-Chikh dan Olivier Ntcham.Namun khusus di partai malam ini,2 pemain pinjaman dari klub EPL ini akan bermain lebih bertahan dan disiplin.Keberadaan Arjen Robben dan Thomas Müller di winger Bayern menjadi alasannya.Saya tidak mau mengambil resiko dengan menginstruksikan lebih menyerang,karena kecepatan mereka akan menjadi masalah di pertahanan FC Eindhoven nanti.Sementara di sisi penyerangan duet Fidel Martínez dan sang monster Khouma Babacar akan menjadi andalan saya dalam melancarkan counter attack.Ya kombinasi #10 yang diperankan Fidel Martínez dan #9 yang akan dimainkan Khouma Babacar memang acap kali melumpuhkan beberapa pertahanan lawan dan saya harap kombinasi mematikan tersebut akan keluar saat kontra Bayern sebentar lagi.

Tak terasa duel pertandingan yang telah dinantikan akan segera tiba.Para pemain yang sedari tadi melakukan warming up atau pemanasan telah kembali ke locker room.Mereka pun bergegas berganti dengan kostum perang,kostum tempur sekaligus kostum kebesarannya,kostum yang menjadi jati diri mereka sebagai pemain.Detik – detik jelang kick off yang menegangkan ini saya manfaatkan untuk briefing terakhir kepada pemain.Nama besar pemain Die Bayern saya harap tidak membuat nyali para pemain keder.Meski saya akui sulit,tapi rasa optimisme untuk setidaknya mengimbangi tak sepenuhnya lenyap begitu saja.Maka dari itu instruksi fokus,kosentrasi dan disiplin,saya tekankan kepada anak – anak FC Eindhoven agar target minimal tidak menjadi lumbung gol bisa tercapai dan tentu sembari berharap ada mukjizat yang mengarah kepada kami.Dan tak lupa,kalimat jangan nervous terus saya ucapkan untuk para pemain.Bermainlah nothing to lose dan bermainlah untuk para fans yang hadir di stadion ini

Jam disudut stadion Koning Willem-II telah menunjukan tepat pukul 19.45 waktu setempat.22 pemain dari 2 armada telah bersiap memasuki arena pertandingan.Rumput stadion Koning Willem-II pun langsung menyambut kedatangan mereka.Warna hijau segar rerumputan dan pancaran air yang membasahinya bagaikan berbicara jika dirinya siap menjadi saksi di partai krusial ini.Giant flag khas UEFA Champions League yang menjadi simbol kompetisi bergengsi di benua Eropa ini pun sudah dibentangkan di tengah lapangan.Para pengadil dan kedua kesebelasan juga tampak telah masuk ke panggung pertempuran.Dan terakhir,yang membedakan kompetisi ini dengan yang lainnya.Yang membuat gaung kompetisi ini semakin besar.Yang menjadikan kompetisi di benua biru ini punya ciri khas tersendiri.Yang seketika membuat semua orang merinding saat mendengar anthem ini.Anthem yang dapat menciptakan suasana yang luar biasa,suasana yang membuat bulu kuduk siapa saja langsung berdiri ini akhirnya berkumandang di stadion Koning Willem-II

“Ce sont les meilleures
equipes
Es sind sie allerbesten
Mannschaften
Die Meister
Die Besten
Les grandes equips
The champions!!!”

Gemuruh stadion seketika pecah tatkala anthem UEFA Champions League selesai dikumandangkan.Anthem yang diputar tak lebih dari 3 menit ini bak seperti penyemangat lebih bagi para supporter dalam mendukung tim kebanggaannya.Sorak sorai dan nyanyian tampak semakin jelas terdengar,membuat seisi stadion kian bertambah bising.
Dan akhirnya kickoff pertandingan pun dimulai.Seperti yang para pengamat prediksikan,Bayern langsung dominan di awal laga.Tekanan dan serangan yang mereka bangun secara sistematis,sangat merepotkan pertahanan kami.Hal ini membuat kekhawatiran saya sebelum pertandingan akhirnya terbukti.11 punggawa FC Eindhoven diatas lapangan terlihat tidak bermain seperti biasanya.Gestur tubuh mereka seakan mengindikasikan jika para pemain tampak canggung dan nervous.Canggung karena lawan yang dihadapi tim sekaliber FC Bayern Munich dan nervous karena panggung 16 besar Champions League ini menjadi panggung perdana FC Eindhoven sepanjang sejarah.Alhasil para supporter tuan rumah dibuat menghela nafas panjang diawal – awal pertandingan,terutama peluang tendangan bebas Thomas Müller dan sepakan Pierre-Emile Højbjerg yang masih mampu diselamatkan Warner Hahn
Paruh babak pertama berjalan,belum ada perubahan didalam permainan FC Eindhoven.Mereka acap kali kehilangan bola dan salah passing.Sang lawan,Bayern Munich malah terlihat semakin nyaman mengalirkan bola dan melancarkan serangan.Bahkan sorot kamera terhadap sang kiper Manuel Neuer dapat dihitung dengan jari,selama 20 menit jalannya laga ini.Namun hal itu tak lantas membuat saya patah arang.Di pinggir lapangan,saya tetap intens memberikan instruksi sekaligus motivasi kepada anak – anak FC Eindhoven.Pun begitu dengan puluhan ribu suporter FC Eindoven.Ditengah derasnya hujan,mereka tak henti – hentinya bernyanyi,mendukung,memompa semangat para pahlawan mereka yang tengah loyo diatas lapangan.

Sayang,lawan yang dihadapi kali ini bukanlah tim biasa.Tim raksasa yang telah malang melintang disepakbola Eropa,bahkan dunia.Tim yang menjadi raja di liga dan negaranya.Salah satu tim pengoleksi trophy Eropa terbanyak.Ya,FC Bayern Munich membuktikan kualitasnya.Akselerasi menusuk,khas Arjen Robben dari sisi kiri terpaksa dijatuhkan secara brutal oleh Branco van den Boomen,tepat 5-7 meter didepan kotak pinalti FC Eindhoven.David Alaba yang maju sebagai eksekutor sukses memperdaya Warner Hahn dengan tendangan melengkungnya khas pemain kidal.Gol yang membungkam seisi tribun stadion Koning Willem-II dan juga bench pemain FC Eindhoven.Mau berapa gol yang akan bersarang digawang kami? Apa rasa optimisme saya sebelum pertandingan terlalu berlebihan? gumamku dalam hati


Gol indah David Alaba di menit 28
Sang goliath pun akhirnya unggul 1-0.Keunggulan yang membuat skuad Bayern Munich berada diatas angin.Sementara dilain pihak,kami terus tertekan dan tertekan.Bahkan sundulan Robert Lewandowski menit 34 nyaris membuat kami semakin tertinggal.Namun bukan supporter FC Eindhoven namanya jika terus meratapi gol David Alaba tadi.Alih – alih duduk dan berdiam diri,mereka dengan setia berdiri dan bernyanyi,membuktikan jika loyalitas dan semangat suporter FC Eindhoven juga layak diacungi jempol.Tak pelak,hal ini berimbas ke para pemain FC Eindhoven diatas lapangan.Bak transfer energi tambahan,punggawa Blauw-witten langsung tampil kesetanan.Diawali dengan shoot on goal pertama dari Srdjan Mijailovic,nama yang sama kembali merepotkan Manuel Neuer di penghujung babak pertama.Sayang,wasit terlanjur membunyikan peluit akhir tanda 45 paruh pertama telah selesai.Tapi secercah harapan muncul dalam benak saya saat masuk lorong ganti pemain.Harapan yang persis ketika kami belum menginjakkan kaki dilapangan.Harapan yang kembali muncul setelah raib selama 45 menit.Harapan yang diciptakan para pemain FC Eindhoven di 10 menit terakhir.Ya,percaya diri.Para personil FC Eindhoven terlihat mulai percaya diri,nyaman dan cair saat menguasai bola.Mereka juga dapat kembali kedalam ritme yang saya inginkan.Dan semoga saja harapan ini terus dijaga oleh para pemain sehingga harapan yang dikatakan mustahil ini bisa terealisasikan

Jeda babak pertama telah tiba.Para pemain dari kedua tim bergegas menuju locker room,bersiap menyambut instruksi dari sang juru taktik.Pun begitu dengan saya.Bersiap ke ruang ganti dengan membawa sedikit harapan positif dan rencana strategi di babak kedua nanti.Sementara di tribun penonton,para supporter tampak beristirahat sejenak,mengisi energi kembali agar 45 menit kedepan,spirit dukungan tetap membara.Diatas lapangan terlihat beberapa pemain cadangan dari kedua kesebelasan,melakukan pemanasan kecil sehingga sudah siap ketika sang pelatih membutuhkan kontribusi dia didalam pertandingan nanti

Di locker room FC Eindhoven suasana nampak lumayan hening.Tak terdengar suara apapun kecuali suara dari saya yang tidak hentinya memberikan pengarahan.Interval pendek yang hanya 15 menit ini benar – benar saya manfaatkan.Karena saya tahu dimomen inilah,saya dapat merubah keadaan,bahkan kerap kali menjadi kunci hasil akhir pertandingan.10 menit jelang berakhirnya masa turun minum,terihat saya masih sibuk memberikan instruksi kepada para pemain.Tak ketinggalan beberapa perubahan strategi dibabak kedua nanti turut saya jabarkan.Ya,dibabak kedua saya berinisiatif untuk mengganti pola taktik yang lebih menyerang.Tentu,tertinggal 1 gol ‘memaksa’ saya membuat sedikit perjudian.Putusnya alur bola dari tengah ke depan juga menjadi salah satu faktor mengapa saya berani mengambil situasi gambling ini.Dan taktik 4-4-2 menjadi opsi saya sekaligus senjata di paruh kedua.Selain itu,instruksi jangan nervous,fokus,kosentrasi kembali saya tekankan dan garis bawahi agar kejadian hampir sepanjang 45 menit pertama tadi jangan sampai terulang untuk kali kedua.Dan kalimat terakhir,sebelum para pemain keluar dari kamar ganti pun saya ucapkan : “bermainlah sebagai diri sendiri dan percayalah tembok besar Bavaria itu akan runtuh pada waktunya”.Sembari bersiap menuju ke atas lapangan,para pemain nampak tersenyum,menandakan keyakinan di diri mereka,yakin hasil manis akan mengarah kepada mereka

Genderang babak kedua akan segera ditabuh.Para pemain cadangan yang selama jeda turun minum tadi melakukan pemanasan pun telah masuk ke locker room untuk melaksanakan ritual doa jelang babak kedua bersama tim masing – masing.Sebuah doa yang tentu akan berperan penting di babak kedua sesaat lagi.Sementara itu salah satu pemain FC Eindhoven sedang berbincang bersama tim pelatih.Tim pelatih terlihat memberikan sebuah arahan khusus bagi si pemain yang dengan seksama dan antusias melahap arahan dari tim pelatih.Saya pun turut andil memberikan instruksi pada si pemain yang saya harapkan mampu menjadi pembeda,supersub dan juga memberikan kontribusi maksimal.Ya,dia adalah Pedro Simões,the young goal getter pinjaman dari Sporting Lisbon.Kali ini dia akan saya plot menemani Khouma Babacar sekaligus melengkapi 2 slot penyerang di formasi 4-4-2.Sedangkan Fidel Martínez bergeser ke kiri,menggantikan peran Bilal Ould-Chikh yang tampil dibawah form nya.Akankah perjudian ini membuahkan hasil manis?Dan mampukah sang striker menciptakan sebuah kejutan?Atau justru FC Eindhoven yang akan bertambah merana?

Priitt…Babak kedua dimulai.Kami langsung mencoba mengambil inisiatif serangan pertama.Ditengah guyuran hujan yang semkain deras melanda stadion Koning Willem-II,beberapa peluang bersih kami dapatkan.Salah satunya sepakan mendatar Srdjan Mijailovic dan first time Khouma Babacar yang seketika membuat bench pemain kami berdiri dan berteriak.Tapi dewi fortuna masih belum berpihak kepada kami.Penyelamatan heroik sang kiper Manuel Neuer masih menjadikan gawang Bayern Munich tetap ‘perawan’.Akan tetapi hal itu tidak lantas membuat para pemain frustasi.Ya selepas momen peluang tersebut,para supporter FC Eindhoven nampak semakin bergemuruh,semakin tak kendur dalam memberikan support nya.Alhasil punggawa FC Eindhoven juga tampil semakin trengginas.Buktinya menit 60 sundulan Pedro Simões kembali membuat kiper lawan pontang – panting menjaga gawangnya.Permainan FC Eindhoven yang berbanding 180 derajat dibanding babak pertama tadi,seolah – olah menunjukan bahwa FC Eindhoven masih ada.Bahkan,gantian sang tamu,Bayern Munich yang terkurung dan terlihat hanya bermain setengah lapangan.Akankah ini menjadi momen kebangkitan kami?Dan akankah gol yang dinantikan itu akan segera tiba?Entahlah.

65 menit berjalan,belum ada gol yang lahir dari kaki pemain kami.Dominasi kami masih sukses dipatahkan oleh para pemain Bayern Munich.Meski hingga setengah paruh kedua berjalan,Die Bayern tertekan habis – habisan,mereka nampak tetap tenang dan tidak nervous.Pengalaman mereka di kompetisi Eropa plus deretan pemain kelas dunia benar – benar memberikan dampak positif.Sementara itu,di pinggir lapangan nampak seorang pemain tengah bersiap diri.Pemain bernomor punggung 8 dengan jersey putih – biru terlihat bersedia untuk turun gelanggang.Marius Lundemo namanya.Gelandang dengan skill merata ini saya turunkan menggantikan sang kapten, Branco van den Boomen guna menambah kekuatan lini tengah.Tapi counter strategi langsung dilancarkan sang arsitek Bayern Munich, Jürgen Klopp.Sadar lini tengahnya mulai kewalahan Jürgen Klopp memainkan darah segar Thiago Alcantara menggantinkan Matthias Ginter.

“Sial,dia (Jürgen Klopp) mampu membaca arah permainan kami”gerutu saya.Benar saja,selepas perggantian tersebut permainan Bayern Munich kembali hidup.Mereka dapat mengimbagi lini tengah kami dan kembali menciptkan beberapa peluang.Jalannya laga pun tampak kembali berimbang.”Ok,tak ada jalan lain”kata saya kemudian.Waktu yang semakin mepet membuat saya tidak punya pilihan lain.17 menit sisa bukan waktu yang panjang untuk mencari gol penyama,apalagi lawan yang dihadapi sekelas Bayern Munich.Instruksi menyerang dan menyerang saya arahkan kepada pemain.Ditambah dengan memasukkan amunisi terakhir José Fernando Tréllez,saya harap ada mukijizat didalam dirinya.Tapi sekali lagi Jürgen Klopp menegaskan jika dia adalah pelaih jenius.Dua pemain langsung dia turunkan yang seakan menjawab pertanyaan dari masuknya José Fernando Tréllez tadi.Yang paling utama adalah turunnya Holger Badstuber. Jürgen Klopp nampak ingin mematikan pergerakan José Fernando Tréllez lewat sang defendernya.Lalu, Gianluca Gaudino yang ditugaskan memutus aliran bola FC Eindhoven di lini tengah.

Jarum jam hampir menuju ke arah 21.30.Itu artinya waktu yang dimiliki kedua tim tak lama lagi akan usai.Segelintir penonton nampak satu per satu mulai berdiri dan meninggalkan stadion Koning Willem-II,mungkin mereka tahu hasil 1-0 akan tetap bertahan hingga akhir laga.Atau mereka kecewa karena tim kesayangannya kalah?mungkin.Tapi ini tak berlaku bagi supporter fanatik FC Eindhoven yang tetap setia dan loyal memberikan dukungan.Nyanyian mereka tetap tak surut meski hampir 90 menit mereka bernyanyi dan berteriak.Bahkan suara chant dukungan mereka tetap nyaring terdengar,tak kalah dengan derasnya hujan serta suara petir dilangit sana.Mereka pun tetap berkeyakinan jika mukjizat itu akan segera tiba. Dan perjuangan para supporter & pemain akhirnya terbayar lunas dimenit 80.Tepat dimenit itulah,stadion Koning Willem-II seketika pecah dan bergemuruh menyambut gol penyama dari pemain FC Eindhoven.Aktornya siapa lagi kalau bukan Pedro Simões.Pemain yang saya harapkan memberikan kejutan,membuktikan bahwa dirinya layak menjadi supersub.Sebuah sundulan memanfaatkan crossing Fidel Martínez disisi kiri sukses memperdaya Manuel Neuer.Para pemain gembira,supporter berpesta.


Selebrasi Pedro Simões usai mencetak gol ke gawang Mauel Neuer lewat sundulannya
Game on.Gol yang seolah menunjukan jika FC Eindhoven belum menyerah dan membuktikan bahwa sang puith – biru itu masih ada.Gol yang benar – benar membangkitan gairah anak – anak FC Eindhoven.”Pertandingan baru saja dimulai bung!!!”.Selain itu,chant dukungan yang digelorakan para supporter FC Eindhoven tampak semakin jelas dinyanyikan,membuat siapapun yang mendengarkannya seketika langsung merinding.Kalimat game on,yang tadi dilontarkan sang komentator pasca gol Pedro Simões,terbukti adanya.Bak di gelayuti setan,permainan FC Eindhoven semakin menggila.Kali ini giliran Marius Lundemo yang jadi aktor protagonisnya.Kerja sama apiknya dengan dua rekan sesama pemain pengganti berakhir dengan plessing indah ke sudut kanan gawang Manuel Neuer.2 gol hanya dalam waktu 2 menit!!!
Pedro Simões tampak memberikan bola kepada José Fernando Tréllez.Sementara disisi lain ada pergerakan coming from behind dari Marius Lundemo


Back pass José Fernando Tréllez kepada Marius Lundemo yang berada diarea bebas


Plessing cantik Marius Lundemo sukses menaklukan Manuel Neuer


Selebrasi & ekspresi kegembiraan Marius Lundemo berbanding terbalik dengan para pemain Bayern Munich yang tampak tertunduk lesu

.”Mukjizat itu akhirnya datang” teriak saya.Optimisme dan keyakinan saya kembali muncul.Tembok Bavaria yang kokoh nan kuat itu akan segera runtuh.Kemenangan atas sang raksasa Jerman tidak lama lagi dapat kami rasakan.Tapi akankah demikian?Sisa 8 menit kedepan jelas menjadi kuncinya.Konsistensi dan kosentasi sama dengan kemenangan.Hilang fokus dan inkonsistensi sama saja dengan membiarkan kemenangan didepan mata buyar begitu saja

Sang lawan,FC Bayern Munich terlihat sedikit gelisah.Bench pemain mereka yang semula adem ayem,sejurus kemudian nampak tegang.Jürgen Klopp pun juga sangat serius memberikan instruksi pada anak buahnya.Tentu dia tidak ingin malu,tim sekelas Bayern Munich yang diasuhnya,tersungkur didepan tim yang 3 musim lalu baru mentas di Eredivisie.All out attack menjadi pilihan realistisnya saat ini.Tapi bukannya gol yang didapat justru malu yang bertambah.Seorang pemain yang baru menginjakkan kaki diatas lapangan selama 45 menit.Seorang pemain muda berangkat dari kota Lisbon,mencari pengalaman di Eindhoven.Seorang pemain yang untuk kali kedua memberikan sebuah pukulan telak bagi kubu Bayern Munich. “Glorie Pedro Simões,Glorie Pedro Simões!!” .Begitulah sekiranya kalimat yang diucapkan para supporter FC Eindhoven sekarang ini.Betapa tidak, Pedro Simões layaknya ingin membuktikan jika dirinya mampu menjadi bintang di pertandingan ini.Dan solo run nya dari jarak 30 meter membuat semua penonton yang hadir di stadion Koning Willem-II berdecak kagum.Ditambah finishing kelas atas semakin membuat penonton dan saya terpukau.
Umpan terobosan Marius Lundemo kepada Pedro Simões
Kontrol prima dari Pedro Simões dan siap melakukan aksi solo run


Akselerasi Pedro Simões dari jarak 30 meter gagal dibendung Jérôme Boateng & Holger Badstuber


Finishing dingin dari Pedro Simões membawa FC Eindhoven unggul 3-1


Dan terakhir,selebrasi kedua dilaga ini dari sang super sub, Pedro Simões

What a match!!Amazing comeback!!Dua kalimat yang menggambarkan suasana pertandingan ini.Tim kecil FC Eindhoven untuk sementara leading 3-1 lewat gelontoran 3 gol yang hanya dalam rentang waktu 5 menit.Sebuah momen langka dan membanggakan tentunya.Momen yang sepatutnya dirayakan jika hasil ini bertahan hingga usai nanti,apalagi tim yang diperdaya adalah Bayern Munich.Lima menit terakhir,kami mencoba mempertahankan keadaan.Disisi lain,sang tamu Bayern Munich malah semakin tertekan.Beruntung tendangan jarak dekat José Fernando Tréllez masih dengan sigap dihalau Manuel Neuer,membuat mereka tidak semakin lesu dan menanggung beban malu yang teramat berat.Dan akhirnya,peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan ditiup wasit.Sebuah pemandangan yang indah melihat para pemain dan supporter merayakan kemenangan ini,apalagi pemandangan disudut stadion,pemandangan yang tak henti – hentinya saya tatap dengan penuh haru dan senyum,pemandangan scoreboard yang menunjukan FC Eindhoven 3 – 1 FC Bayern Munich menjadi pemandangan indah nan elok ditengah gelapnya kota Tilburg

Luar biasa.Tidak ada kata selain kata tersebut,yang bisa saya gambarkan tentang pertandingan tadi.Sebuah pertandingan kelas atas,menegangkan dan penuh drama menghiasi sepanjang 2×45 menit.Apresiasi selayaknya wajib saya berikan kepada para punggawa FC Eindhoven yang dengan gigih tetap berjuang hingga menit – menit terakhir.Sempat grogi dan tertekan di babak pertama,tapi mereka membuktikannya di paruh kedua.Sebuah comeback yang sangat brilliant dan luar biasa mereka pamerkan.Tiga gol pun sukses kami ciptakan hanya dengan jarak 5 menit atau 300 detik!!class.5 menit yang menjadikan Bayern Munich bagaikan berada disebuah neraka,neraka yang kejam dimana para pemainnya seakan dieksekusi satu per satu.Dan terakhir,tak lupa sebuah applause dan pujian khusus kami sematkan kepada para supporter FC Eindhoven yang tetap setia & loyal mendukung tim kebanggaannya,tetap lantang berdiri & bernyanyi sepanjang pertandingan dan guyuran hujan.Kemenangan ini untuk kalian semua!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: